Dibalik Penalti MU vs Chelsea

Penggemar Manchester United dan Chelsea, dua klub sepakbola Inggris, pastinya akan sulit melupakan memori di suatu malam di penghujung Mei 2008 di kota Moskow. Ya, itulah malam final Liga Champions Eropa yang mempertemukan kedua tim. Setelah bermain imbang selama dua kali empat puluh lima menit ditambah tambahan waktu, kedua tim akhirnya harus menentukan siapa yang layak membawa si kuping besar melalui tendangan penalti. MU kemudian memang menjadi jawara melengkapi gelar Liga Utama Inggris yang telah mereka peroleh sebelumnya. Perihal penalti ini terdapat serangkaian peristiwa yang seharusnya lebih menguntungkan pihak Chelsea. Buku Soccernomics karya Kuper dan Szymanski [2009] mengulasnya dengan baik. Catatan kecil ini adalah salah satu upaya menjelaskan bagaimana buku tersebut mengulas ekonomika tendangan penalti bersejarah ini. Rangkaian peristiwa ini dimulai dari seorang bernama Ignacio Palacios-Huerta, yang kini adalah seorang ekonom. Sejak 1995, Palacios-Huerta yang saat itu adalah mahasiswa pascasarjana di University of Chicago, mulai merekam tendangan penalti pada berbagai pertandingan. Rekaman data yang berlimpah ini kemudian dituangkan dalam kertas kerjanya yang berjudul “Professionals Play Minimax” yang terbit tahun 2003. Salah seorang yang mengetahui hasil kerja Palacios-Huerta ini adalah seorang guru besar matematika dan ekonomika sebuah universitas di Israel yang secara kebetulan juga adalah teman dari Avram Grant, pelatih Chelsea yang berkewarganegaraan Israel. Pada saat Chelsea memastikan langkah ke partai final, guru besar tersebut merasa bahwa hasil kerja Palacios-Huerta bisa jadi dapat membantu sahabatnya Avram Grant membawa Chelsea menjadi juara. Maka ia pun memfasilitasi Palacios-Huerta dan Avram Grant untuk berkomunikasi lebih lanjut. Palacios-Huerta kemudian memberikan empat rekomendasi terkait Manchester United dan tendangan penalti, yaitu:

  1. kiper MU kala itu, Edwin van der Sar, biasa menjatuhkan diri ke arah alamiah seorang penendang. Maksudnya bahwa ketika penendang menggunakan kaki kanan secara dominan, maka van der Sar cenderung akan menjatuhkan tubuh ke kanan saat berusaha menangkap bola. Demikian pula sebaliknya, jika kaki alamiah seorang penendang adalah kaki kiri, maka ia akan jatuh ke kiri. Ia bahkan melakukan pola ini lebih sering dibandingkan kebanyakan penjaga gawang. Dengan demikian, solusi yang ditawarkan Palacios-Huerta adalah agar penendang penalti Chelsea mengarahkan bola tidak pada arah yang biasa digunakannya. Misalkan seorang penendang dengan kaki kanan dominan disarankan mengarahkan bola tidak ke arah kanan van der Sar, tapi ke arah kirinya dan sebaliknya.
  2. Palacios-Huerta juga mencatat bahwa kebanyakan penalti yang berhasil digagalkan oleh van der Sar adalah yang ditendang agak tinggi sekitar 1-1,5 meter. Sehingga saran yang diajukannya adalah tendangan diarahkan agak mendatar atau tinggi sekalian.
  3. catatan khusus diberikan Palacios-Huerta untuk Cristiano Ronaldo. Pemain Portugal ini pada saat mengambil penalti biasanya berlari kencang namun berhenti mendadak ketika akan mendekati bola. Jika dia melakukan itu, kemungkinan besar bola akan dia tendang ke arah kanan penjaga gawang. Namun perlu pula ditambahkan bahwa Cristiano Ronaldo kadang merubah pikirannya dalam waktu singkat sehingga berubah pula arah bola yang ia tendang. Karena itu, penjaga gawang disarankan agar tidak bergerak terlebih dahulu. Begitu penjaga gawang terpancing bergerak, Cristiano Ronaldo hampir pasti mencetak gol.
  4. tim yang menendang terlebih dahulu punya kesempatan menjadi pemenang tendangan penalti dengan persentase hingga 60%.

Apakah saran Palacios-Huerta benar-benar diikuti anak asuh Avram Grant? Jawabannya dapat dianalisa dari tayangan video berikut:

Dari video di atas dapat kita susun tabel sederhana berikut. Kaki dominan yang dimaksud adalah kaki yang dominan dipakai seorang pemain. Arah tendangan mengacu pada kemana bola diarahkan dilihat dari sisi penjaga gawang. Pemain dengan kaki kanan yang dominan cenderung menendang ke arah kanan penjaga gawang. Hasil menandakan gol atau tidak tendangan pemain tersebut. Dan keterangan menunjukkan kesesuaian dengan saran Palacios-Huerta. Penendang Chelsea Ballack yang memiliki kaki kanan dominan menendang bola ke arah kiri van der Sar. Meskipun van der Sar mampu membaca arah bola, tendangan Ballack tak berhasil ditahannya dan gol. Belleti yang menggunakan kaki kanan juga menendang ke sisi kiri van der Sar, dan sang penjaga gawang menjatuhkan diri ke arah alamiahnya, sehingga gol pun tercipta. Lampard melakukan hal yang persisi sama dengan kasus Ballack, menendang ke arah kiri, van der Sar mampu membaca tapi gagal menyelamatkan gawangnya. Cole adalah kasus unik. Ia sebenarnya tidak menaati saran Palacios-Huerta untuk menendang ke arah kanan van der Sar. Van der Sar sebagaimana kita lihat, karena menghadapi pemain berkaki kiri dominan, menjatuhkan diri ke sis kiri gawangnya. Namun tendangan Cole begitu keras dan berada di bawah jangkuan hingga van der Sar gagal menangkapnya. Penendang kelima Chelsea, yaitu sang kapten Terry, sebenarnya benar-benar punya kesempatan membawa teman-temannya pulang ke London dengan kebanggaan. Tendangannya sesuai dengan saran Palacios-Huerta, menuju sisi kiri van der Sar, dan sang penjaga gawang telah menjatuhkan diri ke sisi kanan gawangnya. Namun karena terpeleset, bola tendangan Terry yang sudah tepat arahnya hanya membentur tiang. Kita tentu dapat melihat betapa sedihnya Terry seketika itu juga. Kegagalan Terry dari kubu Chelsea mengikuti kegagalan Ronaldo dari kubu Manchester United, sehingga penalti tambahan pun dilakukan. Penendang pertama Chelsea dalam penalti lanjutan ini, Kalou, melakukan tugas dengan baik. Ia mengikuti saran Palacios-Huerta, , karena kaki kanannya yang dominan, untuk menendang ke arah kiri van der Sar. Nah, selepas tendangan Kalou inilah nampaknya entah van der Sar atau seseorang di kubu Manchester United mengetahui bahwa lawannya dari London tersebut menggunakan semacam trik untuk mengakali van der Sar. Kita dapat melihat bagaimana van der Sar menepukkan kedua tangannya dengan begitu bersemangat sebelum menghadapi Anelka, penendang terakhir Chelsea, seolah berkata “Awas ya sudah ngerjain saya ternyata kalian selama ini”. Bukti bahwa van der Sar mengetahui, kita asumsikan demikian, trik atau taktik Chelsea dapat dilihat dari gerakan tangan kirinya yang naik turun di daerah ia duga menjadi arah tendangan penalti akan dilakukan. Van der Sar seolah berkata kepada Anelka, “He, Anelka! Kamu mau menendang ke arah sini kan? Saya sudah tahu, tahu”. Anelka nampaknya terpancing dengan game theory (teori permainan) yang dilancarkan van der Sar. Buktinya ia kemudian menendang ke arah kanan van der Sar, bukan ke kiri sebagaimana saran Palacios-Huerta. Bagaimana game theory ini bekerja dapat dijelaskan sebagai berikut. Kondisi awal, Anelka, yang dominan pada kaki kanannya, tahu bahwa van der Sar cenderung manjatuhkan ke sisi kanan sehingga sisi kiri sang penjaga gawang adalah strategi terbaik untuk memenangi penalti. Namun kondisi selanjutnya merubah keadaan. Van der Sar tahu bahwa Anelka tahu dirinya cenderung manjatuhkan diri ke sisi kanan sehingga sisi kirinya adalah strategi terbaik Anelka untuk memenangi penalti. Kini van der Sar memiliki alternatif selain menjatuhkan diri ke kanan sebagaimana naluri alamiahnya, yaitu menjatuhkan diri ke kiri untuk menghadapi trik para pemain Chelsea. Kondisi selanjutnya kemudian membuat Anelka harus mengambil keputusan cepat apakah kembali mengikuti saran Palacios-Huerta, yang telah diketahui van der Sar ataukah membalik strategi. Anelka kemudian memilih tidak mengikuti saran Palacios-Huerta dan terjadilah apa yang telah terjadi. Game theory ala Anelka ini sebenarnya cukup sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalkan di akhir pekan atau liburan nasional, kita pasti tahu bahwa Jalan Kaliurang cenderung ramai dan macet. Karenanya kita mungkin akan memilih mencari jalan tikus. Awalnya tentunya jalan tikus itu, meskipun sempit, dapat kita lewati dengan nyaman karena tidak banyak kendaraan di sana. Namun lama kelamaan orang lain juga menyadari hal tersebut, sehingga jalan tikus pun menjadi padat dan akhirnya macet. Kita yang telah mengetahui hal ini dan akan berkendara di akhir pekan memiliki dua pilihan: pertama melewati jalan tikus dengan asumsi tidak banyak kendaraan atau kedua melewati Jalan Kaliurang dengan asumsi banyak yang melalui jalan tikus. Kasus Ronaldo yang disarankan Palacios-Huerta ternyata terbukti dengan baik. Sang pemain berlari kencang kemudian berhenti mendadak, dan sebagaimana saran Palacios-Huerta, Cech tidak buru-buru bergerak menunggu Ronaldo bereaksi. Ronaldo akhirnya menendang ke arah kanan Cech dan sang penjaga gawang menangkapnya dengan baik. Chelsea memang akhirnya memenangi Gelar Liga Champion di 2012 di bawah asuhan pelatih sementara, Roberto Di Matteo. Sebagaimana Di Matteo, yang sebelumnya adalah pemain Chelsea, Avram Grant juga adalah pelatih sementara saat membawa Chelsea ke Moskow. Bedanya, ia gagal membawa juara ke Inggris. Salah satu estimasi menyatakan gagalnya Chelsea memenangi penalti kala itu, atau lebih spesifik terpelesetnya Terry saat mengambil penalti, membuat tim sepakbola milik Roman Abramovich ini kehilangan kesempatan mendapat US$170 juta, dengan kurs rupiah saat ini, itu bernilai Rp1,9 triliun. Pelajaran penting bagi Anda yang sedang belajar matematika, statistika, atau ekonometrika adalah betapa pentingnya data dalam mengambil keputusan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s