Yuli Andriansyah

Icon

Belajar Perekonomian Indonesia

Ekonomi Ramadhan

Bulan Ramadhan merupakan bulan suci bagi ummat Islam seluruh dunia, dimana di dalam bulan kesembilan dalam penanggalan hijriah inilah ibadah puasa satu bulan penuh diwajibkan. Puasa yang diwajibkan pada Bulan Ramadhan ini, merupakan ibadah mahdhah yang dilaksanakan dengan meninggalkan segala yang dilarang, utamanya makan, minum, dan berhubungan badan suami istri, serta perkara lainnya sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Dengan kata lain, puasa idealnya merupakan ibadah yang mampu mereduksi tingkat konsumsi seorang muslim yang berpuasa karena adanya pembatasan dalam konsumsi yang diasup tubuh. Namun demikian, benarkah puasa dengan model tersebutlah yang menjadi gaya hidup sebagian besar ummat Islam Indonesia?

Pengalaman ekonomi Indonesia, menunjukkan bahwa Bulan Ramadhan lebih sering menjadi bulan dengan tingkat konsumsi tertinggi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, atau bertolak belakang dengan semangat utama puasa itu sendiri. Bulan Ramadhan justru menjadi bulan dimana konsumsi masyarakat, tidak hanya terbatas pada makanan dan minuman, tetapi sandang dan papan, meningkat drastis. Hal ini tidak terlepas dari pola kehidupan dan budaya yang terbentuk dalam masyarakat Indonesia pada umumnya yang memang ‘lebih mengagungkan’ Hari Raya Idul Fitri dibandingkan Hari Raya Idul Adha. Akibatnya seluruh konsentrasi dicurahkan masyarakat untuk mensukseskan Hari Raya Idul Fitri tersebut dengan berbagai persiapan dan aktivitas jauh-jauh hari, terutama selama memasuki Bulan Ramadhan.

Indikasinya antara lain dapat dilihat dari inflasi bulanan (m-o-m) yang seringkali meningkat drastis selama Bulan Ramadhan (1,87% pada Oktober 2007, data BI). Mengingat sifatnya, inflasi Ramadhan, kalaulah kita bisa menggunakannya sebagai istilah, akan sangat berkaitan dengan tingginya permintaan atau demand pull inflation. Inflasi ini dikendalikan sepenuhnya oleh prefrensi konsumen dalam berkonsumsi, yang selanjutnya manarik harga ke atas. Sesuai hukum permintaan standar, naiknya demand dengan sendirinya akan meningkatkan harga. Produsen pun akan memanfaatkan peluang naiknya demand dengan menambah produksi yang dengan sendirinya akan meningkatkan inflasi.

Meskipun tampak menguntungkan, karena konsumen terkesan memiliki lebih banyak budget untuk berkonsumsi, inflasi Ramadhan pada dasarnya juga menyimpan sejumlah masalah. Pertama, konsumen dengan pendapatan kecil, merupakan konsumen kebanyakan yang membelanjakan pendapatannya dengan porsi terbesar dibandingkan kelompok pendapatan lain. Kelompok masyarakat inilah gambaran dari pekerja-pekerja yang mengumpulkan hampir seluruh pendapatan bulannannya selama setahun, untuk kemudian memanfaatkannya di Bulan Ramadhan dan terutama di Hari Raya Idul Fitri. Akibatnya, semarak Ramadhan dan Idul Fitri sebenarnya baru sebatas euforia yang sangat melenakan bagi masyarakat dalam kelompok pendapatan ini. Dampak ekonomi Ramadhan secara signifikan tidak dirasakan masyarakat seperti ini.

Kedua, produsen ataupun perusahaan yang menyediakan sejumlah barang dan jasa dengan tingkat konsumsi yang tinggi selama Bulan Ramadhan. Kalau boleh jujur kelompok masyarakat inilah yang paling banyak menikmati boom ekonomi Ramadhan. Merekalah yang dengan segala kemampuan dan kejeliaan mampu melihat peluang usaha dan memaksimalkannya menjadi sumber pendapatan yang tidak kecil jumlahnya selama Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Namun demikian, kelompok ini tidaklah tunggal, melainkan memiliki beberapa model sesuai dengan tingkat kapitalisasi yang mereka mungkin hasilkan. Semakin besar modal dan kreatifitas, semakin banyak peluang usaha di Bulan Ramadhan dan semakin besar pula kesempatan meraih dana segar dari konsumen.

Filed under: Ekonomi Indonesia ,

One Response

  1. Kin Jae says:

    Coba anda analisa kmbli,knp konsmsi msyrkat kok mningkat?.Saya jstru pnya alasan kalo hal itu justru sangat wajar karena bulan ini bulan bramal. Dulu (sebelum ramadhan ) masyarakat hidup individualis ,and masyarakat miskin hampir merasa kesulitan untk membeli bahan makanan atau spandang dan papan sehingga dimungkinkan tidak ada peningkatan konsumsi secara signifikan seperti saat ini. Nah sekarang orang kaya or berkecukupan berbondnng bondong beramal membantu kaum dhuafa dan seolah olah rizki ini merata dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Sehingga justru bulan ini adalah bulan kemakmuran bagi semua.

Leave a Reply